Kamu

Kamu

Satu frasa kata yang membuat sesak isi kepala, penuh, tak ada lagi cukup ruang. Aku seperti seorang bodoh menyerah lalu berlutut untuk cinta yang kuagungkan tapi kau hempaskan dengan sadis. Entah ini pura-pura atau apa, penolakan yang kau buat sempurna menyakiti aku.

Kalau ada orang lain yang senang melihat lainnya menderita, mungkin kamu orangnya. Heran, bagaimana bisa kamu begitu bahagia dan tertawa selepas itu di bahunya. Sedang kau tahu, aku sedang begitu terluka menyaksikan ini.

cerpen kamu

 

baca juga: Bubur Cikini Penuh Curcol

Entahlah, dulu aku tak pernah percaya ada manusia yang dengan tega sengaja menggores luka dengan terang-terangan. Duniaku terlalu kecil, terlalu indah persis kisah putri yang tak pernah tersakiti.

Lalu, pada dunia yang nyata ini aku bertemu kamu, yang mempesonaku untuk hanya kemudian dengaan sengaja melukai tanpa ampun. Dipikir aku sekuat itu, melihat kau tertawa di bahunya. Dipikir aku se-wonder woman itu melihat dia sengaja bergelayut manja di kamu.

Kamu menatapku, berpura-pura tak tahu apa yang aku rasa. Tersenyum, mengajakku masuk dalam obrolan dengan bumbu kemesraan kalian. Indah sekali caramu, sayang.

Kata mereka, bukan salahmu, aku saja terlalu besar menaruh harap pada kamu yang begitu menyilaukan. Aku tak menyangka kau setega itu ternyata, membiarkan aku terseok sendiri.

Hai, kamu lelaki paling egois di hidupku. Aku juga heran kenapa aku masih sangat bisa menerima apa pun yang kau buat. Masih saja berbinar dan memaafkan, apa memang cinta sebodoh itu?

Kamu hanya datang dan bermanis saat butuh aku saja, lalu saat aku sangat butuh kamu. Pergi. Itu yang kau buat. Bukan benar pergi, hanya pura-pura tak tahu, atau lebih tepatnya tak peduli. Aku tak tahu, kenapa kau begitu senang melukaiku.

Yang lebih aku tak tahu, bagaimana bisa aku tetap di sini dengan cintaku. Masih heran dengan kelakuan hati yang begitu bodoh ini. Aku berusaha berfikir segala hal buruk tentangmu.

Tentang kamu yang tak pernah peduli, kamu yang sibuk sendiri, kamu yang dengan sengaja bermesaraan dengan dia di depan mataku. Aku berusaha memikirkan tentang segala sakit yang selalu kau usahakan untuk aku.

cerpen kamu

Tapi, kamu tahu satu kenyataan? Cinta ini masih sama, bentuknya masih persis seperti pertama dia tumbuh. Eh, malah jadi lebih kuat, dia jadi lebih kuat dari Hulk di Avenger. Dia jadi lebih mau berkorban dari si iron man, si cinta ini terlalu keras untuk berubah wujud jadi benci.

Aku tahu kau seegois itu, apa pun maumu. Saat kamu lelah, bosan dengan kebersamaan ini. Kamu bisa dengan tegas bicara, “ Aku capek, mau pulang.”.

Tanpa sedikit saja berfikir tentang aku yang penakut dan jadi terlalu payah jika kau tinggalkan sendirian.

Dan si cinta ini juga terlalu polos, atau bodoh, atau memang terlalu jauh letaknya dari organ bernama otak. Segala bentuk kecerdasan yang aku punya, tiba-tiba enyah, hilang entah lah kemana. Aku buntu saat dipaksa menuliskan segala yang buruk tentangmu. Semua tertutup oleh cinta yang keterlaluan besarnya ini.

Sulit sekali berfikir tentang kurangmu, untukku kamu sempurna. Sebodoh itu jemari ini. Seperti yang pernah kuutarakan, tak ada yang sempurna, aku tahu. Aku sendiri bukan hilang rasa karena melihat kurang mereka. Bukan alasan itu aku tak ingin bersama mereka.

Bukan perkara itu, wanita itu mengabdi. Dan aku, sang wanita ini hanya akan mengabdi pada dia yang kurangnya mampu ku terima dengan baik. Dan dia adala kamu, yang moody, egois, keras kepala dan tak pernah mau peduli.

Kamu, pernah sadar tentang aku yang selalu mengusahakan segala tentangmu. Pernah sadar, tentang aku yang rela menahan ingin demi ada di dekatmu. Karena membersamaimu adalah lebih dari segala ingin yang aku punya.

Ku mohon, berhentilah berusaha menyakiti. Berfikirlah sedikit tentang aku, wanita yang begitu menyayangimu tanpa tapi. Berfikirlah sedikit tentang perasaan wanita itu.

Bayangkan, kalau hatinya harus hancur. Hanya karena terus-terusan kau usahakan untuk dihancurkan. Berhentilah sayang, sudahi segala perih dan luka yang sengaja kau siram ke aku. Terima lah sedikit saja tentang kenyataan bahwa aku menyayangimu. Beri aku sedikit saja bahagia, dan sudahilah segala perih yang sengaja kau buat untuk aku.

Aku juga manusia, sama sepertimu. Jangan marah pada cinta ini, aku mohon sayang.

Sekarang, untuk kamu yang kurangnya begitu banyak tapi masih bisa saja aku terima. Aku mau tanya sesuatu, apa benar kamu sebahagia itu melihatku terluka? Apa benar, kamu sesenang itu bermesaraan dengan dia dihadapku, lalu melihat aku begitu cemburu dan tersakiti? Apa benar senang rasamu?

Hai kamu, lelakiku yang paling egois, jangan begitu kumohon. Sungguh, sekali lagi kutegaskan. Aku juga manusia biasa, sama sepertimu. Aku punya sesuatu yang rapuh yang disebut hati di dalam sini. Persis seperti punyamu, yang bisa terluka lalu bisa hancur tanpa sisa.

 

30 thoughts on “Kamu

  1. Tulisan spontan yang keren. Asik kan? Yuk menulis lagi dengan tema yang berbeda walaupun tentang hal yang sama

  2. Ini ceritanya sedih, tapi kog aku ngakak ya mba.. Hahaha. Mungkin aku sama seperti “kamu” itu. Justru gregetan ama si wanita… segitu cintanya, kayak gak ga ada pilihan lain aja.. *ehh kog emosi..😂

  3. Hai.. kamu..

    Cintamu terlalu “nganu”

    Mbok yoh udahan capek tauk.

    Nggak pernah berpikir seh kalau aku jadi wanita di kisah ini, kok yo nganu banget cintanya. Kayak nggak bisa mikir bahwa banyak loh laki-laki yang sempurnanya lebih dari dia (kamu).

    Btw.. curhatan hati entah hanya ilusi yang pasti tulisan ini asyik untuk dinikmati dan menggelitik untuk dicermati…

    kenapa “wanita ini” bodoh sekali seh, hayolah… move on!
    #geram.com

    Salam,
    Ratna

  4. hati itu ada di dalam diri kita, jadi perlu diri kita dulu yang rusak baru akhirnya si hati jadi rusak. dengan kata lain, hati hanya bisa rusak oleh diri kita, bukan karena si KAMU.

    1. Mari tarik napas dalam2.. kemudian keluarkan perlahan…

      Kamu, sadarkah atau sengaja?
      Ah, sepertinya akan sangat melelahkan bila terus2an menyalahkan kamu.
      Baiklah, mulai sekarang ini akulah yg harus berbenah diri, mengubah cara berpikir.
      Mulai sekarang, akulah yang akan berhenti menyakiti diri dengan tidak menyalahkan kamu karena aku tersadar harapanku lah selama ini yang menyakitiku.

  5. Kalau si KAMU enggak mau tahu, tak pernah peduli, datang dan pergi sesuka hati, seharusnya tak perlu menunggu lama untuk mencari KAMU yang lainnya!

    Move on and move up! Love is worth fighting for but not if you’re the only one fighting!

  6. Kalau aku jadi si wanita maka aku hanya akan mencintai saja. Up and down pasti terjadi tapi kalau dari pertama si wanita tau bahwa konsep mencintai adalah ikhlas maka ia tak akan menjadi “bucin” (kalau kata anak zaman sekarang) sebab dikatakan atau tidak, dibalas atau tidak yang namanya cinta mah cinta aja. Gak akan berkurang, apalagi tiba2 hilang hanya karena tidak berbalas. Yaaa setidaknya aku sih gitu hihihii (ini komen apa curhat?)

  7. Ini curhat bukan Ti??

    ihiii…aku ngerasain banget lohh bacanya…dapet perasaannya dalem

    Intinya cuma satu Ti : inget pesen Om Aup : “Don’t invest too much…untuk perasaan kita ke orang lain”

    “Sebelum dia menjadi halal buat kita, anggap aja kemungkinan perasaaannya ke semua orang sama” –> ini tambahan dari gw..

    wkkwkw… #sejakKapanGwJadiFolowwer Raden Rauf ya??>-<

  8. Perasaan wanita memang kompleks ya, ka. kadang bikin bingung sendiri kenapa masih bisa memberi hati pada seseorang yang “terlalu beruntung” mendapatkannya. Semoga setiap wanita yang mungkin pernah merasakan ini bisa tahu bahwa hatinya “terlalu berharga”, dan jangan menaruh perasaan terlalu besar pada pria yang belum Tuhan tetapkan untuk dia.

  9. Ya ampun, si Kamu tega banget yah.
    Bacanya sampe capek sendiri sama kelakuan Kamu. Apakah dengan menyakiti perasaan orang lain, bahagia itu muncul?
    Aku sih thank u next aja mbak.

  10. “Ku mohon, berhentilah berusaha menyakiti. Berfikirlah sedikit tentang aku, wanita yang begitu menyayangimu tanpa tapi.”

    Gemes sama cowoknyaaa. Pengen deh dijejelin boncabe level paling pedes biar cepat sadarrrr.

  11. Si Kamu disini itu jahat banget yaa kak, aku yg baca nya ikutan baper karna pernah juga di posisi si wanita yang mencintai si kamu tapi sikap nya acuh. kalau sudah bawa perasaan itu susah kak, mau itu si kamu sekejem apapun, tetep aja cinta *eh jadi curcol akutuh hahahahhaa

  12. Yaampun aku salfok itu poto akuuuu.. hihihi..
    Iya kamu memang jahat. Tahu kan aku suka. Tahu kan aku sayang. Tapi kamu menyakitiku terang terangan. Terimakasih hei kamu. Aku jadi tahu rasanya luka.

  13. Permasalahan yang bisa mengalahkan masalah perduitan adalah percintaan memang.

    Dan apakah kau sudah pernah bilang ke “Kamu” bahwa kau mempunyai perasaan lebih kepada “Kamu”?

    Jika belum sebaiknya bilang, biar besok2 si “Kamu” itu ga mesra2 depan kau 🤕

    Anyway “Kamu” itu siapa sik? *lha mulai kepo wkwk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *