Selesai.

Selesai.

Tentang suatu rasa yang lama aku abdikan untuk dia, kini terasa mati oleh penuhnya pengkhianatan. Aku lelah pada semua perasaan yang selalu dengan kuat terus aku pertahankan. Sekarang biarkan aku berjalan sesukaku, menikmati indahnya hidupku saat berjarak denganmu.

Kau memang candu buatku, segalamu mengagumkan untukku. Tapi, aku hanya wanita sebiasa itu. Mana mungkin matamu terpaku padaku, jangankan dipaku di cantolpun nggak. Kamu tahu? Segalamu membuatku tak tertidur hanya dengan membayang saja. Aku hafal berapa jumlah kerut di dahimu saat kau dihadapkan pada sesuatu yang kau anggap sulit. Parahnya aku juga tahu berapa derajat sudut lengkung yang kau buat saat tersenyum ke arahku.

Aku memang bukan dia yang berkilau, yang membuatmu menoleh lalu melangkah ke arahnya. Ini alasan aku akhirnya menyerah dan memilih mundur saja. Aku bukan bosan, apalagi telah menemukan penggantimu, tentu bukan itu alasan pergi yang benar.

Aku hanya sadar tak akan mungkin bisa menjadi dia, karena aku adalah aku. Menduplikasi diri seperti orang lain sama sekali bukan keahlianku. Aku terbiasa percaya pada mampuku, pada diri yang kau tak pernah bisa hargai ini. Aku bukan tak bisa, tapi aku tak mau menjadi siapa-siapa yang bukan aku.

Sudah bukan waktunya lagi aku melayani semua inginmu, tanpa timbal balik darimu. Aku mulai pintar, tepatnya cintaku mulai lelah dan akhirnya menyerah. Menjaga seseorang yang sadar tak akan pernah kau dapatkan ternyata selelah itu. Sudah, tak perlu pura-pura butuh aku, biarkan aku pergi saja.

Cara kau pura-pura menghargaiku hanya jadi sakit untukku. Aku ini bukan murid TK A yang begitu senang dibujuk permen bentu kaki warna merah cabai. Aku ini perempuan dewasa yang jelas bisa bedakan mana ketulusan dan mana kepuraan. Sudahlah, lepaskan saja aku. Lelah bukan pura-pura mencintai begitu.

 

One thought on “Selesai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *