Suami Juga Bisa Alami Gangguan Kesuburan

Suami Juga Bisa Alami Gangguan Kesuburan

Menikah itu perjalanan, bukan akhir apalagi sekedar jadi kebahagiaan di hari resepsi sesaat. Saat ijab kabul diucap, maka bahtera baru akan dimulai sebagai sepasang suami dan istri. Banyak suka, tapi pasti juga ada duka. Makanya, menikah disebut ibadah terlama. Berbeda dengan solat yang hitungan menit, puasa yang hitungan hari bahkan ibadah haji yang hitungan bulan.

Gangguan Kesuburan Juga Bisa Terjadi Pada Suami

Dalam pernikahan cobaan pasti ada, dibalik meriah acara resepsi, setelahnya berbagai jenis bahagia dan coba menanti. Setiap pasangan punya ceritanya masing-masing. Ada yang dicoba dengan keluarga pasangan, keuangan dan beberapa dicoba dengan belum kunjung hadirnya momongan. Semua cobaan itu tetap hanya bisa dilewati dengan sabar.

Jadi paham kenapa aku baru menikah di usia 29 tahun, mungkin karena sabarku baru tumbuh subur saat itu. Yang jelas Allah Maha Tahu, jadi percaya saja akan takdir dan ketentuannya. Ngomong gampang sist, menunggu dan was-was menanti siapa jodoh kita cukup bikin hati nggak karuan.

Saat awal menikah, lebih tepatnya akan menikah aku nggak ada kepikiran ingin buru-buru punya momongan. Tapi setelah tiba-tiba testpack positif, lalu berselang beberapa minggu terpaksa kehilangan. Baru dari situ aku merasa ingin segera punya momongan. Untuk lengkapnya aku pernah tulis di sini.

Saat masa-masa penantian ini lah aku join beberapa grup program hamil. Di grup tersebut kami para ibu-ibu pejuang garis dua berbagi tips dan juga curuhan hati. Grup semacam ini cukup menguatkan hati yang sedang patah saat itu.

 

Di suatu siang notif grup berbunyi, ada seorang ibu yang curhat sangat panjang. Inti dari curhatan beliau kurang lebih begini.

Si ibu ini sudah menikah lebih dari 5 tahun, dan masih belum dikaruniai buah hati. Bahkan belum pernah sekalipun merasakan mengandung. Dan yang menurutku paling menyakitkan adalah, dibalik hati yang menanti penuh harap dan pasti perasaan yang campur aduk. Sosok suami dan mertua justru jauh dari kata mendukung. Mereka terus-terusan menyalahkan si ibu ini. Si ibu padahal sudah melakukan berbagai macam upaya dari mulai medis sampai jalur alternatif. Dan setiap pemeriksaan medis, hasil yang didapat bahwa organ reproduksi ibu ini sehat dan nggak ada masalah.

Di sini terus-terusan perempuan yang disalahkan, padahal mengandung/ hamil nggak hanya dari satu faktor. Ada faktor lain yaitu dari si penyumbang sperma yaitu laki-laki. Yang paling menyebalkannya, si suami ibu ini selalu menolak setiap diajak untuk ikut check up.

Gangguan Kesuburan Juga Bisa Terjadi Pada Suami

Hal ini yang mendorong saya untuk tertarik mengikuti Kulwap dari dr. Indra N C Anwar dengan judul “Tak Hanya Istri, Suami pun Dapat Alami Gangguan Kesuburan.”. Kulwap ini diadakan dalam rangka memperingati hari kontrasepsi sedunia pada tanggal 30 September 2021 lalu.

 

Syukur alhamdulillah pasca keguguran di akhir November 2020, saya garis dua lagi di Februari 2021. Dan sekarang usia kandungan sudah di 39 minggu, rasanya bahagia sekali menanti kehadiran baby boy yang tinggal menghitung hari.

Saya ikut kulwap ini untuk mengedukasi diri dan berbagi pada kalian semua tentang “Stop Terus Salahkan Perempuan”. Karena, tanpa kalian salahkan dan intimidasi seorang istri sudah pasti menyalahkan dirinya dalam hal ini. Mereka butuh dukungan bukan hujatan.

Dokter Indra memaparkan dan menjawab pertanyaan dengan sangat detail tentang materi ini. Saya akan bahas beberapa point penting yang saya pelajari. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menguatkan untuk para pasangan yang sedang berjuang dan menanti kehadiran buah hati.

Gangguan Kesuburan Juga Bisa Terjadi Pada Suami

Suami dan istri merupakan kesatuan biologik dalam penanganan masalah kesuburan. 45% faktor istri, 40% faktor suami dan ada 15% faktor “unexplained”. Berikut coba saya jabarkan detail tentang faktor-faktor di atas.

1. Faktor Istri 45%

  • Saluran telur (40%)
  • Ovulasi (15-25%)
  • Peritoneum/endometriosis (25%)
  • Mulut rahim (5%)
  • Rahim ( 5%)
  • Disfungsi seksual (1.4%)

2. Faktor Suami 40%

  • Kelainan pengeluaran Sprema
  • Kelainan produksi dan pematangan sperma
  • Kriptokismus
  • Hormonal
  • Infeksi
  • Lingkungan
  • Obat-obatan
  • Idiopatik
  • Genetik/ Kromosom
  • Penyumbatan saluran mani karena infeksi bawaan
  • Faktor imunologik/ antibodi antisperma
  • Faktor Gizi

 

Bagaimana lingkungan kita kerap mengabaikan kemungkinan ketidak suburan dari suami yang secara presentasi ada di angka 40%? Jelas bukan sesuatu yang adil bukan. Dari penjelasan di atas sudah jelas bahwa pemeriksaan pada program hamil harus dilakukan kedua belah pihak, suami dan istri.

Tidak boleh ada keegoisan dari salah satu pihak. Perlu diingat kehamilan terjadi karena kesuburan istri dan suami, bukan hanya salah satunya. Stop saling menyalahkan.

 

Dengan diperiksa dan dievaluasinya faktor-faktor kesuburan suami dan istri dari sini akan ada penganan yang tepat. Dan dengan penganan ini justru meningkatkan kesempatan untuk pasangan tersebut memiliki momongan dibanding sekedar saling menyalahkan.

Jika memang tidak bisa diobati masih ada harapan dengan mengusahakan bayi tabung. Untuk lebih jelasnya hal ini bisa dikonsultasikan dengan ahli di bidangnya. Atau, kalian bisa coba konsultasi langsung dengan dokter Indra. Berikut saya bisikin tempat dan waktu praktek dari dokter Indra.

1. Morula IVF Jakarta setiap hari senin sampai sabtu jam 10-14

2. RSIA Bunda Jakarta setiap hari senin sampai rabu jam 14

3.Klinik Teratai RS Gading Pluit sesuai perjanjian

 

Dalam Kulwap kemarin dokter Indra juga menjawab tentang beberapa mitos-mitos mengenai kesuburan pria yang cukup menarik dibahas.  Seperti tentang pengaruh jumlah testis (hanya 1 buah) pada kesuburan pria. Ternyata hal ini tidak berpengaruh selama satu testis mampu menghasilkan sperma yang sehat.

Ada lagi tentang, keseringan naik motor. Iya, ternyata bisa berpengaruh pada tingkat kesehatan sperma. Lebih karena panas yang dihasilkan dari jok motor.

Dan ada beberapa fakta-fakta menarik lainnya. Dari sini saya belajar, jangan mudah termakan hoax dan kata orang. Bertanya dan percayalah pada ahli di bidangnya.

Sekian paparan pengalaman saya mengikuti Kulwap yang sangat bermanfaat ini. Semoga Makuku, selaku penyelenggara bisa mengadakan lagi kulwap-kulwap edukatif  semacam ini lagi.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *