Ternyata, Bukan Kamu Orangnya

Ternyata, Bukan Kamu Orangnya

“Kamu taro mana sih bawangnya? Aku nggak tahu loh. Udah lah sini cari sendiri.” Teriakannya terdengar nyaring dari dapur apartemenku.

Aku Riska, aku tak pernah tinggal bersama dengannya. Aku masih waras dan takut digrebek mama. Cuma, ya memang benar. Kuhabiskan waktuku sangat banyak untuk membersamai dia. Disengaja? Awalnya tidak, tapi semakin ke sini semakin candu.

Reno, laki-laki tampan walau kurang mapan adalah yang sering teriak-teriak kesal di apartemen di pinggiran Jakarta ini. Katanya, aku ini berantakan sekali dia selalu saja kesal tiap datang. Akupun agak terkejut melihat dia yang terus konsisten marah-marah. Kadang aku sering khawatir urat di lehernya putus sering-sering teriak di sini.

Aku dan dia itu apa?

Teman? Rasanya terlalu kental.

Sekedar sahabat? Hubungan ini kelewat hebat.

Kami sendiri tak tahu, tepatnya tak pernah mau memastikan apa-apa. Ada batas ketidakmungkinan untuk saling memiliki, yang sampai saat ini masih cukup sulit juga untuk kumengerti. Hidup kadang begini kan?

***

“Loh, jadi kita nggak pulang bareng?”

“Iya, gak masalah kan? Aku ada urusan sore ini. Kalo kamu mau ke GOR buat latihan jalan sendiri bisa kan?”

Iya, kan kita bukan siapa-siapa, marah tak bisa, protes percuma. Sudah sekitar beberapa minggu belakangan ada yang berubah. Ini terasa begitu jelas, karena mungkin aku mulai mencintainya. Aku suka aroma tubuhnya, aku suka garis senyumnya, aku suka cara dia menjagaku.

Wisata Pengalengan

Memang benar, kita baru sadar betapa dia begitu bermakna. Justru saat dia memberi jarak, dengan melangkah satu, dua, tiga, lalu mundur. Ada yang hilang yang tak bisa aku gambarkan. Hati mendadak kosong, melompong lalu zong. Aku terluka, dengan tidak sengaja.

Yang aku rindu, paling parah bukan raganya yang dipaksa hadir dengan nyata. Tapi sikap, waktu yang dia beri tanpa tapi, senyum yang dia lengkung tanpa paksa dan lelah yang dia donasikan tanpa pamrih.

Sekarang, semuanya tak bersisa. Yang ada, tinggal kepalsuan dan kebohongan. Perih.

***

Aku merenung dalam malam di apartemen, tempat kita biasa berkrlakar sampai tepar. Di kursi yang biasa dia duduki santai, sambil mengerjakan tugas mengupas bawang. Ku hembuskan nafas begitu panjang, sambil meneteskan air mata yang terjatuh entah mengapa.

Aku kehilangan sesuatu yang tak pernah pantas kukatakan pernah kudapatkan. Fana, begitu kata paling tepat menggambarkan perasaan yang kupunya.

***

Perjalanan ini diawali dengan sendiri, maka aku akhiri dengan sendiri lagi. Begitu memang hakikatnya rasa yang hanya berkobar di satu dada. Begitu menyiksa dan hanya menghasikan kata percuma, buang-buang waktu saja.

Aku mulai membiasakan lagi tanpa kamu, pelan-pelan tapi pasti menata hati yang jujur saja tak karuan kemarin kau buat. Aku mencari kesenangan dan kesibukan yang tak melibatkan kamu di dalamnya. Mati-matian mengembalikan diriku yang dulu begitu berkilau dalam sendiri.

Hari terus berjalan, roda hidup terus berputar, detik jam dinding yang masih di tempat yang sama saat kau belum meninggalkanku, masih terus berdetak tanpa jeda. Dunia terus berputar tanpa memberi waktu untuk sedihku bermanja. Dalam situsi kacau ini, Tuhan dengan baik hati memelukku dengan ke Maha Esa-anNya.

Ternyata ada yang luput dari kami yang selalu bersama dalam tawa dan nikmat yang selalu Tuhan beri. Syukur, kami lupa panjatkan syukur, aku kemudian mulai menjauh dariNya, yang kupikir dan jadi porosku cuma dia. Padahal dia hanya ciptaanNya, yang punya hati dan ego yang tak pernah ku tahu kemana akan mengarah.

***

Aku membaik tanpanya, Riska mulai baik tanpa Reno terus ada di sisinya.

Saat aku mulai merasa mampu bernafas walau masih jauh dari lega. Kau kembali.

Bertanya tentang kita? Maksudmu, ada yang aneh dari kita katamu. Oia, katamu kamu ingin kembali seperti dulu. Di situasi kita bukan siapa-siapa, selalu bersama dalam suka-duka, lalu diam-diam aku jatuh cinta.

Dengan senyum yang kubuat-buat agar tampak tanpa paksa aku berkata, “Nggak ada yang salah sama kita, nggak ada yang berubah terlalu jauh kok. Mungkin hanya masalah waktu yang tak serapat dulu. Bersama yang tak sebanyak dulu, atau mungkin aku juga yang terlalu banyak prasangka. Maaf.” Begitu kataku.

***

Lalu kau buat semua yang hilang kembali. Kau ada terus untukku, bahumu begitu senggang untuk aku bersandar, waktu kau beri begitu luang untuk aku berkeluh kesah mengungkap bimbang. Semuanya memang kembali, sama persis seperti dulu. Senyum itu, tawa itu, kelakar itu, persis. Kecuali satu, hati dan rasa yang aku punya. Semuanya tak pernah lagi sama.

Wisata Pengalengan

Raga dan tawaku masih gratis kuberi ke kamu, waktu juga kuobral semua buatmu. Tapi perkara cinta, atau rasa di dada, semua sudah berbeda. Kamu, kini bukan lagi prioritas utamaku.

Aku punya urusanku yang harus kuselesaikan dengan serius. Konsentrasi tentang segala urusan tentang Dia, pecipta kita, aku dan kamu. Dan untuk semua urusan rasa, cinta dan patah yang dulu ada, kurasa sudah selesai saja sampai di sana. Di waktu kamu pergi dengan sengaja, meninggalkan aku dalam kubangan kecemasan tanpa jawaban.

Ternyata hanya Tuhan, tempat sebaik-baiknya cinta diletakkan, disemai lalu dijaga baik-baik kesuburannya.

 

 

 

 

2 thoughts on “Ternyata, Bukan Kamu Orangnya

  1. Wahh seru banget ceritanya, ikhlas melepaskan walau akan selalu berbekas… wkwkwk.. Lagi belajar nguntai kata kayak kamu ti…suka banget alurnya… Ngalir banget… moga bsa belajar dr blog ini…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *